
Banyak pelaku UMKM akhirnya memutuskan bikin website sendiri. Entah pakai builder gratisan, jasa murah, atau coba-coba sendiri, tujuannya sama: supaya bisnis kelihatan lebih profesional secara online. Namun, hasilnya sering meleset karena berbagai kesalahan website UMKM yang luput diperhatikan sejak awal. Website sudah online, tapi pengunjung datang lalu pergi tanpa menghubungi sama sekali.
Masalahnya bukan selalu soal desain jelek. Lebih sering, penyebabnya adalah kesalahan teknis dan strategi dasar yang luput diperhatikan sejak awal pembuatan. Karena itu, artikel ini membahas tujuh kesalahan yang paling sering ditemukan pada website UMKM. Dengan begitu, kesalahan ini bisa dikenali dan diperbaiki sebelum berdampak ke omzet.
Kenapa Kesalahan Kecil di Website Bisa Bikin Calon Pelanggan Pergi
Calon pelanggan biasanya cuma butuh beberapa detik untuk memutuskan. Dalam waktu singkat itu, mereka menilai apakah akan tetap membaca website atau langsung menutup tab-nya. Misalnya, kalau mereka menemukan tampilan berantakan atau loading lambat, mereka akan pindah ke kompetitor. Begitu juga kalau mereka tidak tahu harus menghubungi ke mana.
Bagi UMKM, hal ini sangat krusial. Sebab, website sering menjadi titik kontak pertama sebelum ada interaksi langsung dengan pemilik bisnis. Jika titik kontak pertama ini gagal meyakinkan, maka proses selanjutnya—chat, telepon, atau kunjungan ke toko—tidak akan pernah terjadi.
Kondisi ini berbeda dengan interaksi tatap muka. Dalam interaksi langsung, pemilik bisnis bisa menjelaskan atau menjawab keraguan calon pelanggan secara spontan. Sebaliknya, di website, semua keraguan itu harus sudah terjawab lewat tampilan dan konten halaman itu sendiri. Dengan kata lain, tidak ada kesempatan kedua untuk menjelaskan ulang begitu pengunjung memutuskan pergi.
7 Kesalahan Website UMKM yang Paling Sering Ditemukan
1. Desain Tidak Responsif di HP
Sebagian besar pengunjung website UMKM mengakses lewat ponsel, bukan laptop. Namun, kalau tampilan website berantakan saat dibuka di HP—tombol kepotong, teks kegedean, gambar tidak proporsional—pengunjung akan langsung menutup halaman. Akibatnya, isi halaman tidak pernah sempat dibaca sama sekali. Anda bisa mengecek kondisi ini sendiri lewat Mobile-Friendly Test dari Google.
2. Loading Lambat
Website yang dibuat asal-asalan biasanya memuat gambar berukuran besar tanpa kompresi. Selain itu, terlalu banyak plugin dan hosting yang tidak memadai juga sering jadi penyebabnya. Setiap detik tambahan waktu loading berarti semakin besar kemungkinan pengunjung pergi sebelum halaman sempat tampil sempurna. Kecepatan loading bisa dicek lewat PageSpeed Insights.
3. Tidak Ada Call-to-Action yang Jelas
Banyak website UMKM berisi informasi lengkap tentang produk atau layanan. Namun, informasi itu tidak memberi tahu pengunjung harus melakukan apa setelah membaca. Misalnya, tidak ada tombol “Hubungi Kami”, tidak ada arahan untuk chat WhatsApp, atau formulir kontak yang sulit ditemukan. Akibatnya, pengunjung yang sebenarnya tertarik pun bingung harus bertindak lewat mana.
4. Informasi Kontak Sulit Ditemukan
Nomor WhatsApp, alamat, atau jam operasional kadang terselip di halaman yang jarang dibuka. Akibatnya, calon pelanggan kehilangan minat sebelum sempat menghubungi. Idealnya, informasi kontak mudah ditemukan dari halaman mana pun, bukan hanya di satu halaman tersembunyi.
5. Konten Asal Isi, Tidak Menjawab Kebutuhan Pengunjung
Sebagian website hanya berisi kalimat umum seperti “kami menyediakan produk berkualitas untuk kebutuhan Anda”. Sayangnya, kalimat seperti ini tidak punya detail konkret—apa produknya, untuk siapa, apa bedanya dengan yang lain. Oleh karena itu, pengunjung tidak punya alasan kuat untuk percaya atau tertarik lebih jauh.
6. Tidak Ada Unsur Kepercayaan
Testimoni pelanggan, portofolio kerja, foto tim, atau legalitas usaha sering dilewatkan begitu saja. Padahal, elemen ini biasanya yang meyakinkan calon pelanggan baru bahwa bisnis ini benar-benar berjalan. Tanpa elemen ini, website terasa seperti halaman kosong yang baru dibuat dan belum bisa dipercaya.
7. Dibuat Sendiri Tanpa Strategi SEO Dasar
Website yang dibuat tanpa memperhatikan struktur judul, deskripsi halaman, atau kata kunci yang relevan akan sulit ditemukan. Baik lewat pencarian Google maupun lewat pertanyaan di AI seperti ChatGPT atau Gemini, hasilnya sama saja. Akibatnya, website sudah online tapi nyaris tidak pernah dilihat orang baru di luar yang sudah tahu bisnisnya lewat kanal lain.
Kesalahan Ini Sering Terjadi Bersamaan, Bukan Berdiri Sendiri
Dalam praktiknya, ketujuh kesalahan di atas jarang muncul satu per satu. Website yang dibuat terburu-buru dengan template gratisan biasanya sekaligus punya beberapa masalah. Misalnya, tampilan mobile berantakan, loading lambat, dan minim call-to-action muncul bersamaan. Penyebabnya sama: tidak ada perencanaan sebelum proses pembuatan dimulai.
Karena itu, perbaikan sering terasa berat kalau dikerjakan satu per satu tanpa arah yang jelas. Sebagai contoh, memperbaiki kecepatan loading saja tidak banyak membantu kalau struktur konten belum dibenahi. Pengunjung tetap akan bingung harus menghubungi lewat mana, meski halaman sudah terbuka dengan cepat.
Dampak Nyata Kalau Kesalahan Ini Dibiarkan
Ketujuh kesalahan di atas jarang berdiri sendiri. Biasanya, kesalahan itu muncul bersamaan karena website dibangun tanpa perencanaan matang di awal. Dampaknya pun bertahap: pengunjung datang tapi cepat pergi, lalu calon pelanggan yang sebenarnya tertarik jadi ragu. Lama-lama, pemilik bisnis menganggap “website memang tidak efektif untuk bisnis saya”. Padahal, masalahnya ada di eksekusi, bukan di konsep punya website.
Selain itu, ada dampak lain yang sering tidak disadari, yaitu hilangnya kesempatan ditemukan lewat pencarian. Baik di Google maupun lewat asisten AI, keduanya makin sering dipakai orang untuk mencari rekomendasi bisnis. Sayangnya, website tanpa struktur konten yang jelas akan sulit dipahami mesin pencari maupun AI. Akibatnya, bisnis kehilangan peluang muncul di momen calon pelanggan sedang aktif mencari solusi.
Cara Menghindari Kesalahan Website UMKM Saat Membangun Bisnis
Langkah paling aman adalah memulai dari perencanaan, bukan langsung desain. Pertama, tentukan dulu tujuan utama website—apakah untuk membangun kredibilitas, menjual produk secara online, atau menjaring pertanyaan lewat WhatsApp. Sebab, tujuan inilah yang menentukan struktur halaman, jenis konten, dan letak call-to-action yang tepat.
Setelah itu, pastikan setiap elemen teknis dasar terpenuhi. Beberapa contohnya adalah desain yang nyaman diakses dari HP, kecepatan loading yang wajar, kontak yang mudah ditemukan, dan struktur konten yang menjawab kebutuhan pengunjung secara spesifik.
Berikut checklist singkat yang bisa dipakai sebagai acuan awal sebelum website UMKM dianggap siap dipakai untuk menjaring pelanggan:
- Tampilan sudah dicek langsung dari layar HP, bukan cuma dari laptop saat proses pembuatan.
- Waktu loading terasa wajar saat dibuka pertama kali, tanpa jeda lama menunggu gambar tampil.
- Ada minimal satu tombol atau tautan yang jelas mengarahkan pengunjung untuk menghubungi bisnis.
- Nomor kontak dan alamat bisa ditemukan tanpa harus mencari-cari ke halaman lain.
- Setiap halaman punya judul dan deskripsi yang menjelaskan isi halaman secara spesifik, bukan generik.
- Ada minimal satu elemen kepercayaan seperti testimoni, portofolio, atau legalitas usaha yang ditampilkan.
Kalau proses evaluasi dan perbaikan ini terasa berat dikerjakan sendiri, ada opsi lain. Menggunakan jasa pembuatan website company profile atau jasa pembuatan website toko online yang sudah terbiasa menangani kebutuhan UMKM bisa mempercepat proses. Dengan begitu, risiko kesalahan yang sama terulang di kemudian hari juga bisa berkurang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa kesalahan paling umum UMKM saat membuat website sendiri? Kesalahan yang paling sering ditemukan adalah desain yang tidak responsif di HP. Selain itu, tidak adanya call-to-action yang jelas juga sering terjadi, sehingga pengunjung datang tapi tidak tahu harus melakukan apa.
Apakah website UMKM harus mahal supaya tidak salah desain? Tidak selalu. Yang menentukan bukan besar-kecilnya biaya, melainkan apakah website dibangun dengan perencanaan yang jelas. Misalnya, tujuan yang jelas, struktur konten yang rapi, dan kebutuhan teknis dasar seperti kecepatan serta tampilan mobile.
Bagaimana cara tahu website UMKM sudah punya kesalahan seperti ini? Cara paling sederhana adalah membuka website tersebut dari HP, seperti calon pelanggan biasa. Kemudian, cek apakah tampilannya rapi, loading-nya wajar, dan tombol kontaknya mudah ditemukan dalam beberapa detik pertama.
Perlukah UMKM menggunakan jasa profesional untuk memperbaiki website yang sudah ada? Jika kesalahan yang ditemukan menyangkut struktur teknis, seperti kecepatan, responsivitas, atau SEO dasar, bantuan profesional biasanya membantu. Umumnya, cara ini mempercepat perbaikan dibanding coba-coba sendiri secara berulang.
Saatnya Evaluasi Website Bisnis Anda
Kalau setelah membaca artikel ini Anda merasa website bisnis punya satu atau beberapa kesalahan di atas, langkah selanjutnya adalah mengevaluasinya. Dengan begitu, dampaknya ke calon pelanggan yang hilang bisa dicegah lebih awal. Tim Transisi Digital terbiasa menangani kebutuhan website company profile, toko online, hingga maintenance website untuk UMKM dan berbagai skala bisnis. Karena itu, jangan ragu menghubungi Transisi Digital untuk konsultasi awal mengenai kondisi website Anda saat ini.